Pada pertemuan pertama sesi kedua saya belajar tentang Kebenaran.
Kebenaran
Kebenaran berasal
dari Kata Yunani yaitu alètheia. Pengertian
Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alètheia berarti
“ketaktersembunyiaan adanya” atau “ketersingkapan adanya”. Seperti yang kita ketahui lawan dari kebenaran
adalah salah. Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian
antara apa yang dipirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang
sesungguhnya. Suatu pengetahuan atau pernyataan di sebut benar jika sesuai
dengan kenyataan.
Pendapat beberapa
filsuf tentang kebenaran, yaitu:
1. Menurut Plato bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini.
2. Menurut Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.
3. Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar. Kebenaran nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat ketika dibandingkan dengan yang lain, tidak mutlak dan relatif) dan mentak (mungkin, belum pasti), sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya (tentu, pasti).
4. Menurut Thomas Aquinas, maka kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui dan kebenaran Logis (Veritas Logica) sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kedudukan
Kebenaran
Kedudukan
kebenaran pengetahuan dalam pandangan Platonis lebih diletakkan dalam
obyek atau kenyataan yang diketahui sedangkan Aristotelian dalam subyek yang mengetahui. Kedudukan
kebenaran dalam tradisi Aristotelian lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kaum
Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial) merupakan
apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan
pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.
Kesahihan
dan Kekeliruan
Pada umunya
kekeliruan berati menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau
menyangkal apa yang senyatanya benar.
Kekeliruan muncul
akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti
sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup
padahal sudah dan juga dikarenakan gegabah dalam menegaskan putusan tentang
suatu perkara.
Faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya:
- Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses kegiatan mengetahui
- Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah. Sikap yang pertama menyebabkan orang menganggap belum cukup bukti untuk dapat menerima kebenaran padahal sebenarnya sudah cukup, sedangkan sikap yang kedua terlalu cepatr merasa cukup menegfaskan benar atau salah, padahal belum cukup bukti.
- Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.
- Prasangka, baik individu maupun sosial.
- Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logika.
Dalam pembahasan
materi ini juga terdapat debat mengenai “Pergaulan Bebas Boleh atau Tidak??”
Saat-saat ini
banyak sekali kita lihat bahwa banyak anak yang berusia dibawah 17 tahun sudah
melakukan hubungan seksual. Salah satu faktornya adalah karena pengaruh
internet. Dengan internet mereka dapat dengan mudah memperoleh informasi apa
saja yang mereka ingin ketahui. Ketika mereka sudah mengetahuinya tanpa
disertai dengan rasa nafsu yang terkontrol dapat membuat mereka melakukan
hal-hal yang tidak diinginkan.
Saya sangat tidak
setuju dengan pergaulan bebas karena itu juga bertolak belakang dengan norma
dan nilai yang ada di Indonesia. Berdasarkan pendekatan rasionalisme, jika kita
pikir-pikir bangsa Indonesia masih terikat dengan aturan-aturan yang cukup kuat
dan dijunjung tinggi. Mereka masih menganggap hal pergaulan bebas adalah hal
yang tidak boleh dilakukan karena sangat bertentangan juga dengan nilai-nilai
agama. Dalam teori kebenaran korespondensi, menurut saya dampak dari pergaulan
bebas itu sendiri sangat buruk seperti meningkatnya aborsi yang dilakukan oleh
para remaja dan juga keterkaitan dengan kondisi psikis mereka ( mereka
cenderung tertutup, selalu menyalahkan diri sendiri ). Oleh karena itu, saya
sangat tidak setuju dengan adanya pergaaulan bebas.
Sifat Kebenaran:
Kritis: Apa saja dampak positif dari pergaulan bebas?
Apakah dampak positifnya lebih banyak atau dampak negatifnya yang lebih banyak?
Normatif: Seperti yang telah saya jelaskan bahwa norma-norma
di Indonesia masih menolak adanya pergaaulan bebas. Karena perilaku tersebut
melanggar berbagai macam norma yang ada seperti norma KeTuhanan, norma social,
norma moral dan sebagainya.
Evaluatif: Jika kita telusuri
lebih dalam pergaulan bebas lebih banyak membawa dampak yang negative. Jika
kita melihat dunia yang berada di wilayah Barat sudah jarang sekali ditemukan wanita
yang masih perawan sebelum mereka menikah. Tetapi jika kita lihat di wilayah
Timur hal-hal itu masih dianggap tabu bahkan mereka akan menjaga dan merawat
anak mereka dengan sebaik mungkin agar tidak jatuh dalam pergaulan bebas.
Sumber kuliah diambil dari slide bahan kuliah ketiga :)

bagus cind blognya, keep on posting ya. dapet nilai 88 :D
BalasHapuscici cindy blognya lucu sekalii.. materinya juga lengkap, menarik, nilainya 90 yahh
BalasHapusbagus jelas rapih menarik lengkpa deh :)
BalasHapus90
cin blognya bagus nilainya 87
BalasHapus