Selasa, 11 November 2014

PENULISAN ILMIAH



Pengaruh Perceraian Orangtua Terhadap Perkembangan Psikososial Anak Middle Childhood

Latar Belakang
     Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, anak membutuhkan dukungan kedua orangtuanya. Orangtua memiliki tanggung jawab dalam mengembangkan keseluruhan eksistensi anak, seperti: (a) kebutuhan psikis, jika kebutuhan ini terpenuhi anak akan tumbuh dan berkembang ke arah kepribadian yang harmonis dan matang; (b) kebutuhan fisik, jika kebutuhan ini terpenuhi anak akan berkembang tanpa mengalami gangguan atau penyakit hingga menjadi anak yang sehat dan ideal sesuai tahapan umurnya; (c) kebutuhan intelektual, jika kebutuhan ini terpenuhi anak akan mencapai prestasi secara optimal sesuai dengan potensinya sehingga tidak akan mengalami hambatan dalam kegiatan belajar (Gunarsa, 2012). Semuanya akan tercapai jika hubungan pernikahan kedua orangtua dalam kondisi baik. Namun, dalam setiap hubungan pasti tidak terlepas dari persoalan, baik persoalan kecil hingga persoalan besar.
     Hubungan rumah tangga yang sudah tidak dapat dibina lagi menyebabkan terjadinya perceraian. Perceraian merupakan perpisahan antara suami dan istri yang dilakukan sebelum kematian salah satu pasangan. Perceraian yang terjadi akan memberikan pengaruh terutama kepada anak mereka (Dewi dan Utami, n.d.). Ketegangan antara ayah dan ibu yang terjadi mengakibatkan anak-anaknya tidak merasa mendapatkan perlindungan dan kasih sayang (Rudyanto, 2008).
     Pengaruh yang paling penting dari lingkungan keluarga terhadap perkembangan psikososial anak berasal dari atmosfer di dalam keluarga. Apabila lingkungan keluarga tidak harmonis, secara tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan psikososial anak usia middle childhood. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak usia middle childhood akan terhambat secara sosial dan edukasi akan tertinggal dibanding dengan teman-temannya yang memiliki keluarga yang harmonis (Papalia, Olds, & Feldman, 2007).

Peran Orangtua dalam Keluarga
     Peranan seorang ibu. Ibu adalah tokoh yang mendidik anak-anaknya, memelihara perkembangan anak, dan juga memengaruhi aktivitas anak di luar rumahnya.  Bila ibu melakukan tugasnya dengan penuh kasih sayang maka anak akan memeroleh kepuasan dan dapat mengadakan penyesuaian sosial yang baik. Kualitas hubungan antara ibu dengan anaknya yang diperlukan oleh seorang anak seperti ketersediaan waktu yang cukup untuk bermain dengan anaknya serta memujinya jika ia memerlihatkan sopan santun yang baik (Rudyanto, 2008). Ibu juga sebagai panutan yang dapat diteladani, yaitu (a) sebagai motivator terhadap pertumbuhan dan perkembangan rasa dan cinta, (b) sebagai pengawal hati nurani anak, dan (c) pengayom jiwa anaknya (Syafei, 2006).
     Peran seorang ayah. Ayah adalah seorang kepala keluarga dan juga memiliki otoritas dalam membuat keputusan-keputusan yang utama. Melalui sikap dan tingkah laku ayah sebagai kepala keluarga akan membuat anak tahan dalam menghadapi konflik, tabah, tidak suka menangis, tegas dan berani. Hurlock (Rudyanto, 2008) mengatakan bahwa seorang ayah harus mengerti keadaan anak, bertindak sebagai teman atau rekan bagi anak-anaknya, membimbing perkembangan anak serta melakukan sesuatu bersama anak-anaknya. Sebagai seorang ayah maka peranan ayah tampak melalui aktivitasnya yang berusaha mengembangkan kemampuan, keahlian yang dibutuhkan anak, mengarahkan minatnya serta mengembangkan kemampuan intelektualnya.

Ketidakhadiran Seorang Ayah atau Ibu dalam Keluarga
     Perkembangan anak akan terganggu. Betapa penting dan kompleksnya peranan ayah dan ibu dalam sebuah keluarga. Kehadiran mereka di tengah keluarga merupakan memberikan kehangatan tersendiri bagi anak. Ayah merupakan gambaran dari kekuatan, keamanan bagi ibu dan anak-anaknya. Sedangkan ibu merupakan sosok yang sabar dan memiliki kelembutan dalam menyikapi kenakalan anak. Akibat dari perceraian, anak harus mengadakan penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan yang ada. Jika anak tidak mampu menyesuaikan diri, anak akan mengalami gangguan terhadap perkembangannya, seperti (a) anak akan merasa diabaikan dan tidak dipedulikan orangtuanya, (b) anak merasa tidak aman karena ketidakhadiran ayah, dan (c) bagi anak laki-laki akan kehilangan sumber identifikasi karena ayah merupakan sumber identifikasi (Rudyanto, 2008).
     Perasaan tidak aman yang dialami seorang anak. Kehilangan rasa aman biasanya kerap kali dialami oleh anak atas perceraian orang tua mereka (Leslie dikutip dalam Haryanto, 2011). Terdapat empat hal yang memengaruhi rasa aman seorang anak yang dapat timbul sebagai akibat perceraian, yaitu: (a) kurangnya kasih sayang yang diterima anak, semua ini tidak terpenuhi karena ketidakhadiran ayah dalam keluarga dan ibu yang sudah terlalu lelah karena bekerja atau sebaliknya; (b) dominasi orangtua, muncul perasaan tidak aman bagi anak karena masing-masing orangtua berusaha memengaruhi kesetiaan anak terhadap mereka, umumnya dengan menjelek-jelekkan pasangannya; (c) disiplin yang terlampau keras, orangtua yang terlalu lelah karena pekerjaan menempatkan mereka menjadi tokoh yang kurang sabar dalam mengahapi anak-anaknya, sehingga pemberian hukuman yang terlalu berlebihan membuat mereka merasa terintimidasi; (d) perceraian merupakan suatu penderitaan dan juga suatu pengalaman yang traumatis bagi anak, muncul perasaan takut pada anak untuk bersosialisasi dengan sekitarnya, sehingga anak menjadi tertutup karena takut mengalami diskriminasi sosial dari lingkungannya (Rudyanto, 2008).

Dampak Perceraian.
     Adjusting to divorce. Perceraian adalah hal yang paling berat bagi anak usia middle childhood. Anak usia middle childhood akan mengalami stres yang disebabkan oleh konflik pernikahan. Selain itu, juga terdapat perpisahan di antara orangtua dan kepergian salah satu dari orangtua, biasanya ayah. Hubungan antara anak dan orangtua dapat menjadi renggang terutama pada salah satu orangtua yang meninggalkannya (Kelly & Emery dikutip dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007).
     Custody and visitation issues. Dalam kasus perceraian, biasanya yang mendapatkan hak asuh anak adalah ibu, walaupun saat ini hak asuh ayah sudah mulai berkembang. Anak usia middle childhood yang tinggal dengan ibu akan menjadi lebih baik jika ayah membiayai kebutuhan anaknya. Hal ini, juga menjadi tolak ukur dari ikatan antara ayah dengan anak dan juga kerja sama antara pasangan yang telah bercerai (Kelly & Emery dikutip dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007).
     Di satu sisi, pembagian hak asuh anak dilakukan secara adil. Seperti, anak akan tinggal secara bersama-sama dengan ayah dan juga ibu. Tiga puluh tiga penelitian mengemukakan bahwa anak yang diasuh secara bersama-sama akan jauh lebih baik dalam beradaptasi, self-esteem yang tinggi, dan hubungan keluarga yang lebih baik (Kelly & Emery dikutip dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007).
     Long-term effects. Hampir semua anak usia middle childhood dapat beradaptasi dengan cukup baik dalam perceraian orangtua mereka namun, akan meningkatkan masalah ketika ia remaja. Masalah yang dapat terjadi saat mereka beranjak remaja, seperti (a) perilaku yang antisosial, (b) kesulitan terhadap authority figures (Amato; Kelly & Emery dikutip dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007),  dan (c) di keluarkan dari sekolah (McLanahan & Sandefur dikutip dalam Papalia, Olds, & Feldman, 2007).

Simpulan
     Perceraian membuat anak merasa kehilangan salah satu orangtua mereka. Pada dasarnya, setiap ayah maupun ibu memiliki peran yang sangat penting dalam pertumbuhan psikososial anak terutama pada usia middle childhood. Ada tiga dampak yang terjadi pada anak usia middle childhood ketika kedua orangtua bercerai, yaitu: (a) adjusting to divorce, munculnya stres yang akhirnya membawa pengaruh pada psikososial anak;  (b) custody and visitation issues, anak akan menjadi lebih baik terutama dalam perkembangan psikososialnya jika diasuh oleh kedua orangtuanya; dan (c) long-term effects, akibat dari perceraian akan membawa efek jangka panjang bagi anak terutama dalam masa remaja.

Daftar Pustaka
Haryanto. (2011). Dampak perceraian bagi psikologis anak. Jurnal Psikologi. Diunduh dari http://belajarpsikologi.com/dampak-perceraian-bagi-psikologis-anak/
Gunarsa, S. D. (2012). Peran orang tua dalam perkembangan anak. Dalam S. M. Manurung dan N. Oktorino (Ed.), Psikologi perkembangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Dewi, P. S., & Utami, M. S. (n.d.). Subjective wellbeing anak dari orangtua yang bercerai. Jurnal Psikologi, 35(2), 194-212.
Syafei, M. S. (2006). Peranan ibu sangat strategis dalam mendidik anak. Dalam A. Vidiayanti (Ed.), Bagaimana anda mendidik anak: Tuntunan praktis untuk orangtua dalam mendidik anak. Bogor: Ghalia Indonesia.
Rudyanto, M. (2008). Keadaan khusus dan pengaruhnya terhadap perkembangan kepribadian anak dan peranan terapi keluarga: Pengaruh perceraian orangtua terhadap anak. Dalam S. D. Gunarsa & Y. S. D. Gunarsa (Ed.), Psikologi perkembangan anak dan remaja (h. 151-169). Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2007). Human development (10th ed.). New York, NY: McGraw-Hill.



Kamis, 06 November 2014

Tugas Karya Ilmiah


Seni dan Budaya di Betawi

Latar Belakang
     Sebagai warga yang tinggal di Jakarta seyogianya mengetahui tentang seni dan budaya asli dari Jakarta. Salah satu kebudayaan asli di Jakarta adalah kebudayaan Betawi. Suku Betawi merupakan hasil asimilasi dari beberapa suku yang ada di Jakarta, seperti Batavia atau Sunda Kelapa pada jaman dahulu. Kemudian hasil asimilasi itu menghasilkan budaya Betawi yang memiliki ciri-ciri berbeda dengan budaya lainnya yang ada Indonesia (Melalatoa dikutip dalam Hendrik, 2012).
     Alasan judul ini dipilih karena saat ini sudah tidak banyak orang yang mempelajari tentang budaya Betawi. Terdapat dua tempat yang dijadikan wilayah konservasi budaya Betawi atau yang biasa dinamakan Perkampungan Budaya Betawi (PBB), yaitu (a) Condet dan (b) Setu Babakan. Upaya konservasi budaya ini dilakukan untuk menciptakan tradisi Betawi sehingga kemudian lahirlah hal-hal yang berkaitan dengan seni dan budaya Betawi, seperti kesenian Betawi, bahasa Betawi, dan pakaian adat Betawi (Shahab dikutip dalam Hendrik, 2012).

Selasa, 07 Oktober 2014

Pertemuan Kesembilan Sesi Kedua

Haiii semuaaa,,, hari inii sayaa lanjutinnn shareee pertemuan kesembilan sesi yang keduaa. Nah,, pembahasaannn yang keduaa adalahh Manusia dan Etos Kerja. :)

Manusia dan Etos Kerja

Latar belakang dan sejarah
Masyarakat Yunani dan Abad Pertengahan

Pada masa Yunani kuno, kerja atau pekerjaan kurang mendapat perhatian. Menurut Plato, jiwa manusia memiliki struktur yang menyangkut 3 hal (rasionalitas atau pikiran, keberanian dan keinginan atau kebutuhan) dimana yang tertinggi adalah rasionalitas atau pikiran.

Dihubungkan dengan 3 pembagian kelas yaitu:
1.     Para penasihat
2.     Para pembantu atau militer
3.     Para penghasil (petani, pengusaha , tukang kayu, niagawan, dsb.)

Segala aktivitas yang bersumber pada akal budi adalah peringkat paling tinggi sedangkan yang paling rendah adalah para penghasil yang sumber kegiatannya berasal dari kebutuhan.

Menurut Aristoteles, kerja yang berhubungan dengan tubuh adalah kerja para “budak” dan orang bebas baginya adalah orang yang menggunakan pikirannya untuk bertindak, bukan yang mengandalkan tubuhnya. Yang berharga adalah aktivitas intelektif atau berpikir.

Masyarakat reformasi dan Industrialisasi

Pada masa protestanisme dan industrialisasi, kerja mulai dianggap sebagai sesuatu yang penting.

Pada masa protestanisme
Marx Weber: kerja adalah sarana untuk mengembangkan pribadi dan dunia serta keselamatan jiwa
Calvin: kerja sebagai ungkapan rasa memiliki terhadap kerjaan surge

Pada masa industrialisasi
Kerja tidak dilihat lagi sebagai kerangka religious tapi sebagai kerangka humanisasi dan manusia mulai sadar dan mengakui dirinya sebagai subjek


Pandangan beberapa tokoh
1. John Locke
Pekerjaan menciptakan hak alamiah
3 argumen dasar Locke tentang kerja sebagai suatu hal yang mendasar bagi manusia :
- kelekatan kerja pada tubuh manusia (kodrat)
- kerja merupakan perwujudan diri manusia (otonom)
- kerja berkaitan dengan hidup (jalan untuk mempertahankan hidup)

2. Adam Smith
Kebudayaan adalah hasil kerja manusia
Ada 2 jenis pekerjaan :
Pekerjaan yang produktif (kaum tani, buruh)
Pekerjaan yang tidak produktif (prajurit,politisi,ahli hukum)

Tiga alasan pentingnya pembagian kerja :
-       perbaikan kondisi hidup pekerja dan masyarakat ke arah yang lebih baik
-       Penghematan waktu
-       Mendorong penemuan baru yang mempermudah dan menghemat tenaga kerja

3.  George Wilhelm Friedrich Hegel
Pekerjaan adalah keseluruhan konteks kegiatan manusia. Manusia menemukan diri apabila menyadari sepenuhnya apa yang dikerjakannya. Kesadaran dapat berbentuk kesadaran akan keakuan manusia secara negative dan juga kesadaran bahwa tanpa objek, manusia tidak memiliki kesadaran

4.  Karl Marx
pencapaian kenyataan manusia hanya bisa terjadi melalui pekerjaan melalui aspek sosial dan historis. Hasil kerja manusia tidak saja dinikmati sendirinya tapi juga dirasakan oleh orang lain di berbagai zaman.

Sejarah kerja

Sekitar 2600 tahun yang lalu di Yunani
Hesiodotus : kerja adalah isi utama dari kehidupan manusia

Di Erope pada abad ke 14
Para Rahib Benediktin bekerja di ladang dan sawah bergantian dengan mereka berdoa. Kerja tangan sama sucinya seperti orang berdoa

Berbagai macam level manusia sesuai dengan pekerjaannya menurut Plato:
1.     Pada masa perbudakan : kerja merupakan perubahan derajat / strata manusia
2.     Sisi lain : kerja adalah sesuatu yang rendah

Pada abad 17 dan 18
John Locke : pekerjaan merupakan sumber untuk memperoleh hak milik pribadi
Hegel : pekerjaan membawa manusia menemukan dan mengaktualisasikan dirinya
Karl Marx : pekerjaan merupakan sarana untuk menciptakan diri

Hakikat kerja

Kerja adalah wadah bagi pembentukan diri manusia dalam membangun dunianya

H. Arvon menyebutkan 3 faktor yang menilai apakah sebuah kegiatan dapat disebut bekerja:
1.     Keterlibatan dimensi subjek secara intensif
2.     Hasil yang bermanfaat
3.     Mengeluarkan energy

Kerja / pekerjaan adalah segala kegiatan yang direncanakan, melibatkan pikiran dan kemauan yang sunugguh – sungguh serta memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai

Kerja manusia vs kerja Hewan

Perbedaan :
Jenis energy yang dikerahkan
Hewan : energy fisik
Manusia : energy psikis & energy spiritual

Hasil kerja
Hewan : untuk keperluan bertahan hidup & kebutuhan biologisnya
Manusia : lebih dari sekedar kebutuhan psikisnya, juga kebutuhan spiritualnya

Dorongan kerja
Hewan : naluri
Manusia : manusia menentukan diri di dalamnya, punya pilihan bekerja

Elemen kerja
-         Elemen subjek : potensi / kekuatan yang melekat dalam diri manusia
-         Elemen objek : pendukung untuk merealisasikan pikiran, rencena serta kehendaknya

Peran istimewa tangan

1.     membagi, memegang dengan kuat, mendorong dan menarik
2.     menghadirkan apa yang ada di dalam pikiran seseorang
3.     berhubungan dengan inteligensi
  
Dimensi kerja
a. Dimensi personal
Lewat kerja, manusia menunjukkan nilai kemanusiaanya, membuktikan diri sebagai manusia, dan mengungkapan keunikan dan totalitas diri setiap pribadi

b. Dimensi social
Kerja sebagai sarana perwujudan kepedulian setiap pribadi kepada orang lain. Pekerjaan merupakan jembatan antara umat manusia dari satu zaman ke zaman berikutnya (aspek historis)

c. Dimensi etis
Nilai – nilai etis yang dikandung atau dituntut dalam kerja :
1.     Keadilan
2.     Tanggung jawab
3.     Kejujuran

Etos kerja

Menurut Usman Pelly :
Etos kerja adalah sikap yang muncul atas kehendak dan kesadaran sendiri yang disadari oleh sistem orientasi nilai budaya

Menurut Toto Tasmara :
Etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta carnya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal sehingga pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan antara manusia dengan mahluk lainnya dapat terjalin dengan baik

Hal – hal penting yang berhubungan dengan etos kerja :
1.     Orientasi ke masa depan
2.     Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu
3.     Tanggung jawab
4.     Hemat dan sederhana
5.     Persaingan sehat

Secara umum :
Etos kerja adalah penggerak perbuatan dan kegiatan individu sebagai seorang pengusaha

Fungsi etos kerja
1.     Pendorong timbulnya perbuatan
2.     Penggairah dalam aktivitas
3.     Penggerak

Cara menumbuhkan etos kerja
1.     Menumbuhkan sikap optimis
2.     Jadilah diri anda sendiri
3.     Keberanian untuk memulai
4.     Kerja dan waktu
5.     Konsentrasi dan focus pada pekerjaan

Kerja bermartabat

Kerja bermartabat adalah komitmen setiap organisasi untuk membangun lingkungan kerja yang kondusif dan positif sedemikian rupa sehingga terbangun hubungan kerja yang manusiawi

Hak seorang pekerja dalam lingkungan kerja yang bermartabat :
1.     Diperlakukan secara bermartabat
2.     Bekerja dalam lingkungan atau suasana kerja yang bebas dari kekerasan dan pelecehan
3.     Bebas dari ketakutan dan diskriminasi
4.     Menerima penghargaan atas keterampilan dan kemampuan profesionalnya
5.     Menerima penghasilan yang layak

Menurut Kasdin Sitohang :
Manusia tidak sekedar bekerja, tetapi juga berkarya dan mewujudkan dirinya secara utuh. Kode etik profesi dapat diandalkan sarana / prinsip – prinsip moral (prinsip kejujuran, tidak berperilaku buruk, tidak melanggar hukum, berperilaku adil dan proporsional)

Etos kerja di Jerman: Mittelstand
10 tahun lalu perusahaan – perusahaan Jerman menolak untuk melakukan investasi finansial di bursa-bursa saham untuk meraup keuntungan secara cepat dan masih giat memproduksi berbagai bentuk barang (kuno dan konservatif). Saat Eropa krisis hutang, ekonomi Jerman surplus, ekspor meningkat dan angka pengangguran terendah. Hal ini dikarenakan Mittelstand (kelas menengah) memiliki etos kerja radikal, spesialisasi, familiaritas, kejujuran, konservatisme keuangan, investasi pada manusia, dan pemerintah yang kompeten

Etos kerja dan spesialisasi

Semboyan yang terkenal adalah “Work hard, play hard” (etos kerja radikal). Salah satu kunci keberhasilan ekonomi Jerman adalah spesialisasi produk dari setiap daerah yang sesuai dengan kekhasan mereka masing - masing

Familiaritas dan Konservatisme
Contoh perusahaan – perusahaan dengan bisnis Mittelstand :
1.  Pabrik sepatu Meindl :
Kekeluargaan yang tidak merusak produktivitas, malahan perusahaan ini eksportir besar sepatu ke Eropa dan AS
2.  Pabrik mobil Audi :
Familiaritas antar pekerja maupun dengan pemimpin, dampaknya perusahaan ini bermutu tiinggi dan berorientasi internasional
        
Pabrik yang menerapkan kebijakan jujur dan konservatif yaitu tidak mau mendapatkan uang cepat karena bermain saham, menipu bank serta yang menggunakan prinsip Mittelstand yang walaupun terkesan kuno namun mampu menggiring perusahaan – perusahaan tersebut berhasil.

Peran pemerintah
Pemerintah jerman yang amat birokratis dan semi paranoid demi alasan keamanan dan untuk melindungi orang orang yang ingin meminjam uang di bank sehingga mereka tidak terlilit hutang yang tidak mampu dibayarnya nanti

Kesimpulan keseluruhan tentang Jerman

Etos kerja radikal, spesialisasi kerja dan produksi, familiaritas dan kejujuran, konservatisme keuangan, investasi pada manusia dan pemerintah yang kompeten adalah roh dari Mittelstand Jerman yang membuat Negara kecil tersebut bertahan di tengah krisis – krisis finansial dunia.


Sumber diperoleh dari modul pertemuan kesembilan :)