Seni dan Budaya di Betawi
Latar
Belakang
Sebagai warga yang tinggal di Jakarta
seyogianya mengetahui tentang seni dan budaya asli dari Jakarta. Salah satu
kebudayaan asli di Jakarta adalah kebudayaan Betawi. Suku
Betawi merupakan hasil asimilasi dari beberapa suku yang ada di Jakarta, seperti
Batavia atau Sunda Kelapa pada jaman dahulu. Kemudian hasil asimilasi itu
menghasilkan budaya Betawi yang memiliki ciri-ciri berbeda dengan budaya
lainnya yang ada Indonesia (Melalatoa dikutip dalam Hendrik, 2012).
Alasan judul ini dipilih karena saat ini sudah tidak banyak orang yang
mempelajari tentang budaya Betawi. Terdapat dua tempat yang dijadikan wilayah
konservasi budaya Betawi atau yang biasa dinamakan Perkampungan Budaya Betawi
(PBB), yaitu (a) Condet dan (b) Setu Babakan. Upaya konservasi budaya ini
dilakukan untuk menciptakan tradisi Betawi sehingga kemudian lahirlah hal-hal
yang berkaitan dengan seni dan budaya Betawi, seperti kesenian Betawi, bahasa
Betawi, dan pakaian adat Betawi (Shahab dikutip dalam Hendrik, 2012).
Menurut Aristoteles, seni adalah peniruan terhadap alam tetapi sifatnya harus ideal sedangkan menurut Plato dan Rousseau, seni adalah hasil peniruan alam dengan segala seginya. Menurut Ki Hajar Dewantara, seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan dan sifat indah, sehingga menggerakan jiwa perasaan manusia. Menurut Ahdian Karta Miharja, seni adalah kegiatan rohani yang mereflesikan realitas dalam suatu karya yang bentuk dan isinya mempunya untuk membangkitkan pengalaman tertentu dalam rohaninya penerimanya). Menurut Sudarmaji, seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume, dan gelap terang (dikutip dalam “Pengertian Seni Menurut Para Ahli Lengkap,” 2014).
Menurut
Koentjaraningrat, budaya adalah suatu sistem gagasan
dan rasa, tindakan serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Menurut E.B. Taylor,
budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan
kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Linton, budaya
adalah keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang
merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat
tertentu. Menurut Kluckhohn dan
Kelly, budaya adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara
historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada
pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia (Wahyu,
2013).
Jenis-jenis seni dan budaya di Betawi
Rumah adat. Rumah
adat yang satu ini adalah rumah kebaya. Rumah ini sangat sederhana dengan ukiran khas betawi yang terbuat dari kayu dengan bentuk rumah kotak (dibangun
di atas tanah dengan bentuk kotak). Rumah ini memiliki atap yang berbentuk
perisai landai yang diteruskan dengan atap pelana yang lebih landai, terutama
pada bagian teras, kemudian terdapat halaman yang luas, dan juga terdapat pagar
paling luar dari rumah tersebut. Di dalam rumah kebaya terdapat ruang tamu,
ruang keluarga, ruang tidur, kamar mandi, dapur, dan teras cukup luas (dikutip
dalam “Kesenian dan Kebudayaan Jakarta (Betawi),” 2013).
Figur 1. Rumah adat.
Pakaian adat. Pakaian
adat Jakarta dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (a) pakain adat laki-laki, mengenakan baju koko, celana batik, kain pelekat atau
pun sarung yang di taruh di leher serta peci yang digunakan dan (b)
pakaian adat wanita, dengan mengenakankan baju
kurung lengan pendek atau pun kebaya, yang dilengkapi dengan kain sarung batik
dan menggunakan kerudung. Jika untuk acara pernikahan pakaian adat yang dipakai
pun berbeda. Pakaian pengantin laki-laki ini meliputi jubah dan tutup kepala
sedangkan bagi perempuan mengenakan blus berwarna cerah dan bawahannya
menggunakan rok atau disebut Kun yang berwarna gelap dengan model duyung.
Sebagai pelengkap bagian kepala menggunakan kembang goyang dengan motif burung
hong dengan sanggul palsu, dilengkapi dengan cadar di bagian wajah (dikutip
dalam “Kesenian dan Kebudayaan Jakarta (Betawi),” 2013).
Figur
2. Pakaian adat.
Seni
Tari. Seni tari Betawi memiliki cukup banyak tarian tradisional yang hidup
dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat aslinya, yakni masyarakat Betawi.
Tarian Betawi terbentuk dari proses asimilasi berbagai kebudayaan, seperti
Melayu, Arab, Cina, Portugis, India (dikutip dalam “5 Tarian Khas Betawi,”
2014).
Tari topeng. Teater topeng Betawi muncul pada awal
abad ke-20. Pada awalnya pertunjukkan tari topeng tidak menggunakan panggung
melainkan pertunjukkan dilakukan di tanah. Properti
yang digunakan dalam pertunjukkan hanya lampu minyak bercabang tiga dan gerobak
kostum diletakkan di tengah arena. Pergantian adegan dilakukan dengan
mengitari colen. Namun, tahun 1970-an pertunjukan topeng sudah dilakukan di
atas panggung dengan alat penerangnya bukan lagi colen, tetapi lampu petromaks
atau listrik. Pertunjukan topeng diiringi oleh musik yang disebut tabuhan
topeng yang terdiri dari rebab, kromong tiga, gendang besar, kulanter, kempul,
kecrek, dan gong buyung (Saputra, 2013).
Tari
Cokek Betawi. Tarian Betawi ini merupakan tarian yang dibawa oleh para
tuan tanah tionghoa yang kaya raya. Hal ini juga terlihat dari pakaian yang
dikenakan oleh penari mirip dengan tarian Cina. Tarian ini menggunakan music gambang
kromong (dikutip dalam “Kesenian dan Kebudayaan Jakarta (Betawi),” 2013).
Kesenian. Ada beberapa kesenian Betawi
beberapa diantaranya ada ondel-ondel dan lenong. Dulu nama ondel-ondel dikenal
dengan sebutan barongan namun, nama ondel-ondel dipopulerkan oleh seorang
Benjamin Sueb yang menciptakan lagu ondel-ondel. Ondel-ondel berbentuk boneka
raksasa dengan tinggi 2,5 – 3 meter, rangka
tubuhnya dibuat dari bamboo dengan garis tengah tubuhnya 80 cm. Wajahnya dibuat
dari kayu, matanya besar melotot dan rambutnya dibuat dari ijuk warna
hitam. Lalu agar lebih menarik dirambutnya
diberi hiasan kembang kelape (Saputra, 2013).
Lenong adalah
sebuah pertunjukkan drama dengan alunan musik gambng kromong dan ditambah unsur
lawakan dengan banyolan-banyolan tanpa adanya plot cerita (dikutip dalam
“Kesenian dan Kebudayaan Jakarta (Betawi),”
2013). Ada beberapa jenis lenong, yaitu: (a) lenong denes, menyajikan cerita-cerita kerajaan dan
menggunakan bahasa Melayu tinggi. Dialog dalam lenong denes sebagian besar
dinyanyikan; (b) lenong preman, membawakan cerita drama rumah tangga
sehari-hari dengan cerita yang dibawakan umumnya kisah para jagoan, antara lain
Si Pitung, Jampang Jago Betawi, Mirah Dari Marunda, Si Gobang (Saputra, 2013).
Kesimpulan
Sebagai
orang di Jakarta seyogianya mengenal seni dan budaya sebagai salah satunya
adalah seni dan budaya Betawi. Pengertian seni secara umum dapat diartikan sebagai barang atau
karya dari sebuah kegiatan sedangkan budaya adalah cara hidup suatu bangsa atau
umat yang tidak lagi dilihat sebagai pancaran ilmu dan pemikiran yang tinggi
dan murni dari sesuatu bangsa untuk mengatur kehidupan berasaskan peradaban.
DAFTAR PUSTAKA
Herman,
hendrik. (2012). Ekspresi dalang wayang kulit betawi dalam lakon gatot kaca
edan. Kebudayaan: Journal penelitian dan
Pengembangan Kebudayaan. 7(2). 123-143.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar