Senin, 22 September 2014

Pertemuan Ketiga Sesi Kedua (18 September 2014)


Pada pertemuan pertama sesi kedua saya belajar tentang Kebenaran. 
 
Kebenaran

Kebenaran berasal dari Kata Yunani yaitu alètheia.  Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa alètheia berarti “ketaktersembunyiaan adanya” atau “ketersingkapan adanya”.  Seperti yang kita ketahui lawan dari kebenaran adalah salah. Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Suatu pengetahuan atau pernyataan di sebut benar jika sesuai dengan kenyataan.

Pendapat beberapa filsuf tentang kebenaran, yaitu:

1.       Menurut Plato bahwa kebenaran sebagai ketidaktersembunyiaan adanya itu tidak dapat dicapai manusia selama hidupnya di dunia ini.

2.       Menurut Aristoteles dalam memahami kebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif.

3.       Menurut kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar. Kebenaran nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat ketika dibandingkan dengan yang lain, tidak mutlak dan relatif) dan mentak (mungkin, belum pasti), sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya (tentu, pasti).

4.       Menurut Thomas Aquinas, maka kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu kebenaran Ontologis (Veritas Ontologica) merupakan kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spritual atau material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui dan kebenaran Logis (Veritas Logica) sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.

 
Kedudukan Kebenaran
Kedudukan kebenaran pengetahuan dalam pandangan Platonis lebih diletakkan dalam obyek atau kenyataan yang diketahui  sedangkan Aristotelian dalam subyek yang mengetahui. Kedudukan kebenaran dalam tradisi Aristotelian lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial) merupakan apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan.

Kesahihan dan Kekeliruan
Pada umunya kekeliruan berati menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar.
Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencukupi padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup padahal sudah dan juga dikarenakan gegabah dalam menegaskan putusan tentang suatu perkara.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekeliruan misalnya:
  1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses  kegiatan mengetahui
  2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah. Sikap yang pertama menyebabkan orang menganggap belum cukup bukti untuk dapat menerima kebenaran padahal sebenarnya sudah cukup, sedangkan sikap yang kedua terlalu cepatr merasa cukup menegfaskan benar atau salah, padahal belum cukup bukti.
  3. Kerancuan atau kebingungan akibat emosi, frustasi, perasaan yang entah mengganggu konsentrasi  atau membuat kurang terbuka terhadap bukti-bukti yang tersedia.
  4. Prasangka, baik individu maupun sosial.
  5. Keliru dalam penalaran atau tidak mematuhi aturan-aturan logika.

Dalam pembahasan materi ini juga terdapat debat mengenai “Pergaulan Bebas Boleh atau Tidak??”



Saat-saat ini banyak sekali kita lihat bahwa banyak anak yang berusia dibawah 17 tahun sudah melakukan hubungan seksual. Salah satu faktornya adalah karena pengaruh internet. Dengan internet mereka dapat dengan mudah memperoleh informasi apa saja yang mereka ingin ketahui. Ketika mereka sudah mengetahuinya tanpa disertai dengan rasa nafsu yang terkontrol dapat membuat mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Saya sangat tidak setuju dengan pergaulan bebas karena itu juga bertolak belakang dengan norma dan nilai yang ada di Indonesia. Berdasarkan pendekatan rasionalisme, jika kita pikir-pikir bangsa Indonesia masih terikat dengan aturan-aturan yang cukup kuat dan dijunjung tinggi. Mereka masih menganggap hal pergaulan bebas adalah hal yang tidak boleh dilakukan karena sangat bertentangan juga dengan nilai-nilai agama. Dalam teori kebenaran korespondensi, menurut saya dampak dari pergaulan bebas itu sendiri sangat buruk seperti meningkatnya aborsi yang dilakukan oleh para remaja dan juga keterkaitan dengan kondisi psikis mereka ( mereka cenderung tertutup, selalu menyalahkan diri sendiri ). Oleh karena itu, saya sangat tidak setuju dengan adanya pergaaulan bebas.

Sifat Kebenaran:
Kritis: Apa saja dampak positif dari pergaulan bebas? Apakah dampak positifnya lebih banyak atau dampak negatifnya yang lebih banyak?

Normatif: Seperti yang telah saya jelaskan bahwa norma-norma di Indonesia masih menolak adanya pergaaulan bebas. Karena perilaku tersebut melanggar berbagai macam norma yang ada seperti norma KeTuhanan, norma social, norma moral dan sebagainya.

Evaluatif: Jika kita telusuri lebih dalam pergaulan bebas lebih banyak membawa dampak yang negative. Jika kita melihat dunia yang berada di wilayah Barat sudah jarang sekali ditemukan wanita yang masih perawan sebelum mereka menikah. Tetapi jika kita lihat di wilayah Timur hal-hal itu masih dianggap tabu bahkan mereka akan menjaga dan merawat anak mereka dengan sebaik mungkin agar tidak jatuh dalam pergaulan bebas. 


Sumber kuliah diambil dari slide bahan kuliah ketiga :)

4 komentar:

  1. bagus cind blognya, keep on posting ya. dapet nilai 88 :D

    BalasHapus
  2. cici cindy blognya lucu sekalii.. materinya juga lengkap, menarik, nilainya 90 yahh

    BalasHapus
  3. bagus jelas rapih menarik lengkpa deh :)
    90

    BalasHapus