Haiii
semuaaa,,,, hari ini saya akan membagikan tentang perkuliahan pada hari kelima.
Pada perkuliahan ini saya belajar tentang “Silogisme” dan “Kesesatan”. Saat
saya mendengar kata kesesatan saya cukup bingung akan apa yang akan dipelajari
dari kesesatan. Namun, setelah dipelajari saya banyak mendapat ilmu tentang
kesesatan. Sebelum saya akan membagikan mengenai kesesatan saya akn membahas
mengenai silogisme terlebih dahulu.
SILOGISME
Sebelum
membahas lebih jauh, saya akan membahas pengertiannya terlebih dahulu.
Silogisme meruapakn suatu simpulan dimana dari dua putusan (premis-premis)
disimpulkan suatu putusan yang baru. Prinsip silogisme adalah bila premis benar, maka simpulannya
benar. Dua macam silogisme yaitu silogisme kategoris dan silogisme
hipotetis.
Silogisme
kategoris : Silogisme yang premis dan simpulannya adalah putusan kategoris
(pernyataan tanpa syarat).
Konsep
silogisme kategoris : M – P Semua tanaman membutuhkan air (Premis Mayor)
S – M
Akasia adalah tanaman (Premis Minor)
S – P Maka, akasia membutuhkan air
Silogisme kategoris dibagi menjadi beberapa bagian,
yaitu:
1. Silogisme
kategoris tunggal yaitu silogisme yang mempunyai dua premis, terdiri atas 3
term S, P, M. Bentuk-bentuk silogisme kategoris tunggal:
a. M adalah S dalam premis
mayor dan P dalam permis minor.
Aturannya:
premis minor harus sebagai penegasan, sedangkan premis mayor bersifat umum.
Contoh: M – P
Semua manusia membutuhkan makan (mayor)
S
– M Doni adalah manusia (minor)
S – P
Doni membutuhkan makan (simpulan)
b. M jadi P dalam premis mayor dan minor.
Aturannya: salah satu premis harus negative
sedangkan premis mayor bersifat umum.
Contoh : P – M Beberapa politikus tidak
jujur (mayor).
S – M Banyak cendekiawan adalah
politikus (minor)
S – P Jadi,
Banyak cendekiawan tidak jujur (simpulan)
c. M menjadi S dalam premis
mayor dan minor.
Aturannya:
premis minor harus berupa penegasan dan
simpulannya bersifat partikular.
Contoh: M-P Semua manusia membutuhkan
pendidikan (Mayor)
M-S Ada manusia yang memiliki ekonomi yang
sulit (minor)
S-P Jadi, sebagian manusia
ysng memiliki ekonomi sulit membutuhkan pendidikan
d. M adalah P dalam premis
mayor dan S dalam premis minor.
Aturannya:
premis minor harus berupa penegasan, sedangkan
simpulan bersifat partikular.
Contoh: P – M bunga mawar adalah tanaman
(mayor)
M-
S Semua tanaman membutuhkan air (minor)
S-P
Jadi, bunga mawar membutuhkan air (simpulan)
2. Silogisme
kategoris majemuk bentuk silogisme yang premis-premisnya sangat lengkap, lebih
dari tiga premis.
Jenis Silogisme majemuk,
yaitu:
a. Epicherema: silogisme yang
salah satu atau kedua premisnya disertai alasan.
Contoh: Semua
tas bermutu adalah tas yang mahal, karena bahannya bagus.
Tas Guess itu adalah tas yang terkenal baik,
karena awet.
Jadi,
tas Guess adalah tas yang mahal.
b. Enthymema: silogisme yang dalam
penalarannya tidak mengemukakan semua premis secara eksplisit. Salah satu
premis atau simpulannya dilampaui, disebut juga silogisme yang disingkat.
Contoh:
Jiwa manusia adalah rohani. Jadi,
tidak akan mati (versi singkat).
Versi
lengkap: Yang rohani itu tidak akan dapat mati.
Jiwa
manusia adalah rohani.
Maka, jiwa
manusia tidak akan dapat mati.
c. Polisilogisme: deretan
silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme yang
lainnya.
Contoh: Seseorag yang menginginkan lebih dari yang
dimiliki, merasa tidak puas.
Seorang yang rakus adalah
seseorg yang menginginkan lebih drai yang dimiliki.
Jadi, seorang yang rakus merasa tidak
puas.
Seorg yang kikir
merasa tidak puas. Budi adalah seorang yang kikir. Jadi, Budi merasa tidak puas.
d. Sorites: silogisme yang
premisnya lebih dari dua. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain
sedemikian, sehingga predikat dari putusan yang satu jadi subjek putusan
berikutnya.
Orang yang tidak mengendalikan keinginannya, menginginkan
seribu satu barang.
Orang yang menginginkan seribu satu barang, banyak sekali
kebutuhannya.
Orang yang banyak sekali kebutuhannya, tidak
tenteram hatinya.
Jadi orang yang tidak
mengendalikan keinginannya, tidak tenteram hatinnya.
KESESATAN (FALLACIA)
Fallacia dapat diartikan sebagai kesalahan
pemikiran dalam logika, bukan kesalahan fakta, tapi kesalahan atas kesimpulan karena
penalaran yang tidak sehat.
Klasifikasi kesesatan ada 2 yaitu:
1. Kesesatan
formal
pelanggaran
terhadap kaidah logika
2. Kesesatan
informal.
menyangkut
kesesatan dalam bahasa seperti kesesatan diksi.
Contohnya:
- Penempatan kata depan yg keliru: Antara hewan dan manusia memiliki
perbedaan.
- Mengacau posisi subjek atau predikat: Karena
tidak mengerjakan PR, guru menghukum anak itu.
- Ungkapan yg keliru: Pencuri kawakan itu berhasil
diringkus polisi minggu yang lalu
- Amfiboli: sesat karena struktur kalimat bercabang.
Contoh: Anto Anak Bu Lasma yang hilang ingatan lari dari rumah.
- Kesesatan aksen/prosodi: sesat karena penekanan
yang salah dalam pembicaraan. Contoh: Ada aturan ‘Anda tdk boleh ganggu anak
tetangga’. Nah Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu
anaknya.
- Kesesatan bentuk pembicaraan:sesat karena orang
menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain. Contoh: Berpakaian artinya memakai pakaian.
Bersepeda artinya memakai sepeda. Maka, beristeri artinya memakai isteri.
- Kesesatan aksiden: yg aksidental dikacaukan dg hal
yang hakiki. Contoh: Sawo matang
adalah warna. Orang Indonesia itu sawo matang. Maka, Orang Indonesia itu adalah
warna.
- Kesesatan karena alasan yang salah: Konklusi
ditarik dari premis yang tak relevan.
Kesesatan presumsi
• Generalisasi
tergesa-gesa: Orang Padang pandai memasak.
• Non
sequitur (belum tentu): Memang saya tidak lulus karena beberapa hari yang
lalu saya berdebat dengan dosen tersebut.
• Analogi
palsu:Membuat isteri bahagia seperti membuat hewan piaraan bahagia dengan
membelai kepalanya dan memberi banyak makan.
• Penalaran
melingkar (petitio principii): Manusia merdeka karena ia bertanggungjawab
dan ia bertanggungjawab karena ia merdeka.
• Deduksi
cacat: Barangsiapa sering memberi sumbangan, maka dia pasti orang baik. Andi
pasti orang baik.
• Pikiran
simplistis: Karena ia tidak beragama, maka ia pasti tidak bermoral.
Menghindari persoalan
• Argumentum
ad hominem: Jangan percaya omongannya karena ia bekas narapidana.
• Argumentum
ad populum: Anda lihat banyak ketidakadilan dan korupsi, maka Partai Nasdem
adalah partai masa depan kita.
• Argumentum
ad misericordiam: Seorang terdakwa meminta keringanan hukuman karena mengaku
punya banyak tanggungan.
• Argumentum
ad baculum: Karena beda pendapat, suka meneror org lain.
• Argumentum
ad auctoritatem: Mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa.
• Argumentum
ad ignorantiam: Bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan
tidak ada.
• Argumen
utk keuntungan seseorang: Seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah,
bila mahasiswi mau dijadikan isteri.
• Non
causa pro causa: Orang sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia
menganggap itu sebagai penyebabnya.
Kesesatan retoris
• Eufemisme/disfemisme:
Pembangkang yang dianggap benar disebut reformator. Bila tidak disenangai
maka disebut anggota pemberontak.
• Penjelasan
retorik: Dia tidak lulus karena tidak teliti mengerjakan soal.
• Stereotipe:
Orang Batak suka menyanyi.
• Innuendo:
Saya tidak mengatakan makanan tidak enak, tapi mau mengatakan lukisan itu
bagus.
• Loading
question: Apakah Anda masih tetap merokok?
• Weaseler:
Tiga dari empat dokter menyarankan bahwa minum itu memperlancar pencernaan.
• Downplay:
Jangan anggap serius omongannya karen dia hanya buruh bangunan.
• Lelucon/sindiran:
Tulisan mu bagus seperti ceker ayam
• Hiperbola:
Hanya dia orang yang kucintai satu-satunya di dunia ini.
• Pengandaian
bukti: studi menunjukkan.
• Dilema
semu: Tamu yang menolak kopi, langsung disuguhi sirup.
Sumber diambil dari slide pertemuan hari ke lima :)
cindy blognya uda lengkap loh gw nilai 85 yah
BalasHapusmaterinya lengkap bangett
BalasHapus90 yaa ;)
Penjelasannya bagus, nilainya 80 ya cin :)
BalasHapusCindy blognya bagus , menarik minta untuk baca . 90 ya buat kamuu :D
BalasHapusWah jdi bljar ilmu bru saya
BalasHapus88 deh nilainyaa :D
wahhh banyak contoh nya, jadi mudah dipahami. 90 :)
BalasHapus