Jumat, 26 September 2014

Pertemuan Kedelapan (26 September 2014)



MANUSIA DAN AFEKTIVITASNYA

Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
Yang membedakan manusia dengan tumbuhan adalah afektivitasnya. Afektivitaslah yang membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dengan orang lain. Afektifitaslah yang mendorong orang untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif. Bagaimana disposisi afektif dasariah si subyek terhadap obyeknya? Seluruh kehidupan afektif berputar pada dua kutub yang bertentangan satu sama lain yaitu mengarah pada obyek karena menyukainya, atau berpaling darinya karena menganggapnya buruk. Cinta merupakan buah afektivitas positif sedangkan  benci merupakan buah afektivitas negatif. Sebenarnya cintalah yang paling dasariah.

Sikap mana yang diambil afektivitas berhadapan dengan obyek?
Terhadap obyek yang dianggap berguna subyek mencintainya. Ini disebut cinta utilitaris atau bermanfaat.

Bagaimana sikap subyek dapat ditentukan secara afektif oleh obyeknya? Dibedakan ‘perasaan’ dan ‘emosi’. Kehidupan afektif memperlihatkan macam-macam cara yang berbeda-beda menurut bagaimana subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yang berbeda-beda ini disebut ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas). Meninjau ciri khas kebenaran afektivitas yg disebut ‘suasana hati.’ Orang bersuasana hati baik bila semua kemampuan bekerja dengan baik.
Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa, padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yang spiritual.

Apa yang merupakan perbuatan afektif?
Hidup afektif atau afektivitas merupakan seluruh perbuatan afektif yang dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyeke atau sebaliknya. Perbuatan afektif sedikit mirip dengan  ‘perbuatan mengenal’ karena dianggap perbuatan vital atau imanen. Tapi perbuatan afektif beda dengan ‘perbuatan mengenal’ karena perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pada obyek.

Kondisi afektivitas manusia
Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya.
Apakah kesenangan harus dicurigai? Saya hidup dibawah ‘cara afektif’ kesenangan, bila saya sungguh bersatu dalam perasaan dan pikiran dengan apa yang baik bagi saya. Kesenangan adalah perasaan yang dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Catatan tentang cinta akan diri, sesama dan Tuhan
Orang sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh.
Egoisme menolak setiap perhatian otentik pada orang lain. Orang egois hanya mengambil untung dari apa saja. Jika kita mencintai Tuhan dengan seluruh jiwa atauhati, tidakkah itu sama dengan mengasingkan diri dari diri sendiri? Tidak. Tuhan tidak melawan kita. Ia transenden dan imanen. Menurut  Santo Agustinus Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing-masing. Ia adalah dasar dalam mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin saya mendekati orang lain, makin saya mendekati Tuhan.

KEBEBASAN
Jiwa dan kebebasan
Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya. Dalam fungsi menentukan perbuatan, jiwa berhubungan dengan kehendak bebas. Karena jiwalah manusia menjadi mahluk bebas. Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanism.

Pandangan determinisme
Determinisme merupakan aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.
Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik
   Determinisme fisik-biologis
   Determinisme psikologis
   Determinisme sosial
   Determinisme teologis

Kebebasan sebagai eksistensi manusia
Kelemahan determinisme:
     Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia (paradoks tidak meniadakan kebebasan juga keharusan)
     Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
     Menafikan adanya tanggung jawab (tak relevan menuntut tanggung jawab atas kesalahan)

Kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia, apa argumennya?
}  Manusia hidup dalam “kemungkinan dapat” atau berhadapan dengan pilihan berbeda bobot
}  Adanya tanggung jawab
}  Makna perbuatan moral ada pada kebebasan (Pandangan Immanuel Kant tentang kebebasan dan kehidupan moral)
               
Apa arti kebebasan?
}  Pengertian umum/Kebebasan negatif/tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial
}  Pengertian khusus/kebebasan eksistensial
       Penyempurnaan diri (ingat filsafat proses Whitehead?)
       Kesanggupan memilih dan memutuskan
       Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

Jenis-jenis kebebasan
  • Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)
  • Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan)
  • Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial
    • Melibatkan pertimbangan
    • Mengedepankan nilai kebaikan
    • Menghidupkan otonomi
    • Menyertakan tanggung jawab
Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normative. Ada 4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:
    • Menyertakan pengertian
    • Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
    • Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
    • Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

Sejarah Perkembangan Masalah Kebebasan
Masalah yang sudah sangat lama dan memiliki sejarah panjang. Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena…
1.       Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah “nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya
2.       Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya
3.       Manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis
Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik. Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik. Era kontemporer kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang social. Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri

Sumber kuliah diambil dari slide bahan kedelapan :)

Pertemuan Keenam Sesi Kedua (23 September 2014)



FILSAFAT MANUSIA

Filsafat sebagai perenungan dicirikan oleh:
a.       Mengkaji segala hal secara kritis
b.      Menggunakan metode dialektis
c.       Berusaha mencapai realitas terdalam (arkhe)
d.      Bertujuan menangkap tujuan ideal realitas
e.      Mengetahui bagaimana harus hidup sebagai manusia

Bagian filsafat ini mengupas apa arti manusia atau menyoroti hakikat atau esensi manusia, memikirkan tentang asal-usul kehidupan manusia (origin of human life), hakikat hidup manusia (the nature of human life), dan realitas eksistensi manusia. Maka, filsafat manusia menanyakan pertanyaan krusial tentang dirinya sendiri dan secara bertahap memberi jawaban bagi diri sendiri.

Mengapa kita perlu mempelajari filsafat manusia?
Manusia adalah makhluk yang mampu dan wajib (sampai tingkat tertentu) menyelidiki arti yang dalam dari “yang ada”, manusia juga bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Boleh saja jika kita  tidak harus tahu segala hal, tapi sekurang-kurangnya kita harus mengenal dan mengerti diri sendiri secara mendalam agar dapat mengatur diri dalam hidup ini.

Saat-saat ini banyakk sekali anak-anak muda yang tidak tertarik akan filsafat terutama filsafat manusia karena menurut mereka filsafat tidak berguna dan juga zaman sekarang banyak ilmu yang mengkaji manusia yang memperkaya dan memperdalam pengetahuan tentang manusia.
Beberapa filsuf yang membahas mengenai filsafat manusia adalah:
a.       Plato 
b.      Aristoteles
c.       Merleau-Ponty
d.      Paul Ricoeur
e.      Martin Heidegger
f.        Soren Kierkegaard
g.       Emmanuel Levinas
h.      Gabriel Marcel
i.         Jacques Lacan
j.        Jacques Derrida

Jadi, relevankah filsafat manusia?
      Ya, manusia itu dinamis, misteri dan paradoksal
       Alasannya adalah:
1.    Dengan bertanya manusia mewujudkan hakikat kemanusiaannya
2.    Dengan mendalami manusia, manusia mengenal dirinya lebih baik
3.  Sebagai konsekuensi no.2 di atas, filsafat manusia mengantar manusia semakin bertanggung jawab terhadap dirinya dan sesama. Misalnya kata Karl Marx, Erich Fromm dan E. Levinas

Sebagai bagian dari filsafat, cara kerja filsafat manusia juga sama dengan filsafat pada umumnya yaitu: refleksi, analisa transendental dan sintesa juga ekstensif, intensif dan kritis. Objek filsafat manusia terbagi 2, yaitu objek material yang berkaitan dengan manusia dan objek formal yang berkaitan dengan esensi manusia, strukturnya yang fundamental.

Struktur fundamental bukan fisik melainkan struktur metafisik yakni intisari, struktur dasar, bentuk terpenting manusia, dinamisme primordial manusia yang diketahui melalui daya pikir, bukan penginderaan.

Kata Max Scheler dan Heidegger

Tak ada zaman, seperti zaman sekarang di mana manusia menjadi pertanyaan bagi dirinya sendiri atau menjadi problematik bagi dirinya. Tak ada pula masa di mana di tengah kemajuan yang pesat mengenai manusia, manusialah paling kurang tahu tentang dirinya dan tentang identitasnya

Kata A. Heschel tentang filsafat manusia dalam “Who is man?” Stanford University Press, 1965

“filsafat mempunyai perhatian terhadap manusia dalam totalitasnya, bukan dalam aspek ini atau itu. setiap ilmu terspesialisasi (antropologi, linguistik, fisiologi, kedokteran, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik), betapapun kerasnya usaha mereka, mereka tetap membatasi totalitas dari individu dengan memandangnya dari segi salah satu fungsi, atau dari dorongan tertentu. Pengetahuan kita tentang manusia terpecah-pecah: kerapkali kita menggantikan keseluruhan dengan salah satu bagian. Kita berusaha menghindari kesalahan itu”.


Sumber kuliah diambil dari slide bahan keenam :)



Kamis, 25 September 2014

Pertemuan Keenam Sesi Pertama (23 September 2014)

Haii semuuaa,,, hari ini saya akan kembalii membagikan ilmu yang saya dapat pada pertemuan keenam. Dipertemuan ini disesi saya belajar tentang etika dan moral kemudian di sesi kedua saya belajar tentang filsafat manusia. Let's see what i got.




ETIKA DAN MORAL
Secara etimologis, etika berasal dari kata Yunani yaitu Ethos yang berarti adat kebiasaan, adat istiadat, akhlak yang baik. Sedangkan moral berasal dari kata Latin yaitu Mos (tunggal), moris (jamak) yang memiliki arti kebiasaan. Dalam bahasa Indonesia etika atau moral diartikan sebagai kesusilaan. Secara singkat etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.

Obyek material dari etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia. Perbuatan dimaksudkan di sini adalah yang dilakukan secara bebas dan sadar. Obyek formal dari etika adalah kebaikan dan keburukan atau bermoral dan tidak bermoral dari tingkah laku tersebut.

Menurut Bertens etika berarti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Dapat dikatakan sebagai “sistem nilai” dalam hidup manusia perseorangan atau hidup bermasyarakat.

Etika dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.       Etika Perangai
Adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, pada waktu tertentu pula. berlaku karena disepakati masyarakat berdasarkan hasil penilaian perilaku. Contoh: berbusana adat, pergaulan muda-mudi, perkawinan semenda, upacara adat.

2.       Etika  Moral
Berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia. Apabila dilanggar timbul kejahatan, yaitu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar. Kebiasaan ini berasal dari kodrat manusia yang disebut moral.Contoh: berkata dan berbuat jujur, menghargai hak orang lain, menghormati orang tua atau guru, membela kebenaran dan keadilan, menyantuni anak yatim-piatu

Pengertian etika dalam berbagai hal, yaitu:
1.      Etika sebagai ilmu : Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
2.      Etika sebagai kode etik : Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3.      Etika sebagai sistem nilai : Nilai mengenai benar-salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.

Objek Material dan Objek Formal Etika
Objek material etika adalah tingkah laku atau perbuatan manusia (perbuatan yang dilakukan secara sadar dan bebas). Objek formal etika adalah kebaikan dan keburukan, bermoral tidak bermoral dari tingkah laku tersebut. (Perbuatan yang dilakukan secara tidak sadar atau tidak bebas, tidak dapat dikenakan penilaian bermoral atau tidak bermoral).
Berdasar kajian ilmu etika merupakan cabang filsafat yang mengenakan refleksi dan metode tugas manusia dalam upaya menggali nilai-nilai moral, atau menerjemahkan pelbagai nilai itu ke dalam norma-norma, lalu menerapkannya pada situasi kehidupan konkret. Sebagai filsafat, etika mencari keterangan (dan kebenaran) yang sedalam-dalamnya.
Berdasarkan kajian ilmu etika dibedakan menjadi 2, yaitu:
1.       Etika Normatif: mempelajari secara kritis dan metodis norma-norma yang ada, untuk dapat norma dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
2.       Etika Fenomenologis: mempelajari secara kritis dan metodis gejala-gejala moral seperti suara hati kesadaran moral, kebebasan, tanggung jawab, norma-norma.

Tujuan belajar etika untuk menyamakan persepsi tentang penilaian perbuatan baik dan perbuatan buruk bagi setiap manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Sebagai ilmu, etika bersifat kritis dan metodis.
    

 
Etika Deskriptif
Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas. Misalnya: adat kebiasaan, anggapan-anggapan tentang baik dan buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan.

Fenomenologi Kesusilaan
Fenomenologi  berasal dari kata fenomenon yang berarti sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya (sering disebut gejala), logos yang berarti uraian, percakapan. Jadi Fenomenologi memiliki arti uraian atau percakapan tentang fenomenon atau sesuatu yang sedang menampakkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala.
Ciri pokok fenomenologi adalah menghindarkan pemberian tanggapan mengenai kebenaran.

Etika Normatif
Dalam etika normatif, norma-norma dinilai dan sikap manusia ditentukan. Etika normatif berbicara mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia, memberikan penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma dan juga etika normaatif tidak deskriptif, tetapi preskriptif (artinya memerintahkan) dan tidak melukiskan melainkan menentukan benar-tidaknya tingkah laku atau anggapan-anggapan moral.

Metaetika
Meta (Yunani) = “melebihi”, “melampaui”, “setelah”, “di luar”, “tentang”. (metabahasa = bahasa yang dipakai dalam berbicara  tentang bahasa). Istilah metabahasa diciptakan untuk menunjukkan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan di bidang moralitas. Metabahasa bergerak pada taraf lebih tinggi daripada perilaku etis, yaitu pada taraf “bahasa etis” atau bahasa yang digunakan di bidang moral. Persoalan yang menyangkut metaetika adalah persoalan yang rumit.

Berdasar Struktur Etika





Penjelasan
Etika Umum : berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar, teori-teori etika dan prinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan.

Etika Khusus : merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus

Etika Khusus dibagi lagi menjadi dua bagian :
1.       Etika individual, yaitu menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri.
2.       Etika sosial, yaitu berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia.

Etiks Profesi
Etika Profesi adalah Etika sosial yang menyangkut hubungan antar manusia dalam satu lingkup profesi dan masyarakat pengguna profesi tersebut.

Ciri-ciri Etika Profesi
a)      Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu :
b)      Adanya pengetahuan khusus,
Biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
c)      Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi.
Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
d)      Mengabdi pada kepentingan masyarakat,
artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
e)      Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi.
Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untukmenjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
f)       Menjadi anggota dari suatu profesi.

Prinsip-prinsip etika profesi, yaitu:
1)      Tanggung jawab
Terhadap pelaksanaan pekerjaan itu dan terhadap hasilnya.
2)      Terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
3)      Keadilan.
4)      Prinsip ini menuntut kita untuk memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya.
5)      Otonomi.
6)      Prinsip ini menuntut agar setiap kaum profesional memiliki dan di beri kebebasan dalam menjalankan profesinya.

Kode Etik
Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja.

Tujuan Kode Etik
1.       Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2.       Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3.       Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4.       Untuk meningkatkan mutu profesi.
5.       Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6.       Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7.   Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan  terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Aliran Pemikiran Etika
1.       Hedonisme (Yunani = hedone: kenikmatan atau yang menyenangkan). Kebaikan manusia menurut kaum hedonis terletak dalam kenikmatan dan kesenangan yang menjadi tujuan hidup manusia. Aliran hedonisme menyatakan bahwa kesenangan/ kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia oleh karena itu reguklah kenikmatan selama masih bisa direguk.

2.       Egoisme
kesenangan dan kebaikan diri sendiri menjadi target usaha seseorang dan bukan kebaikan orang lain. Sebaliknya aliran yang menekankan dan melihat kesenangan atau kebahagiaan orang lain menjadi tujuan segala usaha manusia disebut: altruisme (Latin: alter= yang lain atau orang lain)


3.       Utilitarianisme (Latin: uti, usus sum= menggunakan atau utilis= yang berguna).
Kesenangan atau kenikmatan manusia dilihat sebagai seusuatu yang baik dalam dirinya, sedangkan penderitaan dan sakit adalah buruk dalam dirinya.

4.       Deontologisme (Yunani: deon+logos= ilmu tentang kewajiban moral).
merupakan etika kewajiban yang didasarkan pada intuisi manusia tentang prinsip-prinsip moral. Sikap dan intensi pelaku lebih diutamakan daripada apa yang dilakukan secara konsekuensi perbuatan itu. Deontologisme Etis: berpendirian bahwa sesuatu tindakan dianggap baik tanpa disangkutkan dengan nilai kebaikan suatu hal. Yang menjadi dasar moralitas adalah kewajiban.


5.       Etika situasi
kebenaran suatu tindakan ditemukan dalam situasi konkret individual atau bagaimana situasi itu mempengaruhi kesadaran individual.



Perbedaan Etika dan Moral



Perbedaannya Etika dan Etiket menurut Bertens :

ETIKA
ETIKET
1. Menetapkan norma perbuatan,
    apakah boleh dilakukan atau
    tidak, misal: masuk rumah orang
    lain tanpa izin.

1. Menetapkan cara melakukan
    perbuatan, menunjukkan cara
    yang tepat, baik, dan benar
    sesuai dengan yang diharapkan

2. Berlaku tidak bergantung pada 
    ada tidaknya orang lain, misal
    larangan  mencuri selalu berlaku, 
    baik ada atau tidak orang lain.

2. Berlaku hanya dalam pergaulan,
    jika tidak ada orang lain etiket
    tidak berlaku.

3. Bersifat absolut, tidak dapat
    ditawar-tawar, misal: jangan
    mencuri, jangan membunuh

3. Bersifat relatif, dianggap tidak
    sopan dalam suatu kebudayaan
    dapat dianggap sopan dalam
    kebudayaan lain.

4. Memandang manusia dari segi
   dalam <batiniah>

4. Memandang manusia dari segi
    luar <lahiriah>


Beda Etika dan Hukum
1)      Hukum lebih dikodifikasi daripada etika; etika tidak dikodifikasi.
2)      Hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah saja; etika menyangkut juga sikap batin seseorang.
3)      Sanksi yang berkaitan dengan hukum berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan etika (sanksi hukum bisa dipaksakan, etika tidak bisa dipaksakan).
4)      Hukum didasarkan pada kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara; etika melebihi para individu dan masyarakat.
5)      Jika hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan, etika memberikan penilaian baik buruknya.
6)      Etika ditujukan kepada manusia sebagai individu; hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial.

Beda Etika dan Agama
Etika sebagai cabang filsafat bertitik tolak pada akal pikiran, bukan agama. Etika mendasarkan diri hanya pada argumentasi rasional. Agama bertitik tolak dari wahyu Tuhan melalui Kitab Suci.


Sumber kuliah diambil dari slide bahan keenam :)