Haiii guyyssss,,,, materi hari ini adalah eksistensialisme yang di ajarkan oleh Pak Raja dan Pak Carolus. Berikut materi yang akan saya bagikan untuk kalian semua :)
EKSISTENSIALISME
A. EKSISTENSIALISME
MENURUT KIERGAARD
Etimologis
yaitu ex berarti keluar, sistentia (sistere)berarti berdiri. Manusia
bereksistensi sama dengan manusia baru
menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya. Pusat diriku terletak di
luar diriku. Ia menemukan pribadinya dengan
seolah-olah keluar dari dirinya
sendiri dan menyibukkan diri dengan apa yang diluar dirinya. Hanya manusialah
bereksistensi.
Beberapa
tokoh filsafat yg menganut gaya eksistensialisme, antara lain: Kierkegaard,
Edmund Husserl, Martin Heidegger, Gabriel Marcel, Jean Paul Sartre. Para tokoh
filsafat sulit menyeragamkan defenisi mengenai eksistensialisme, karena adanya
perbedaan pandangan mengenai eksistensi itu sendiri. Namun satu hal yang sama
yaitu filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkrit, manusia sebagai
eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi.
Ciri-ciri eksistensialisme
- Motif pokok adalah eksistensi, cara manusia berada. Hanya manusia bereksistensi.
- Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan diri secara aktif, berbuat, menjadi, merencanakan.
- Manusia dipandang terbuka, belum selesai. Manusia terikat pada dunia sekitarnya, khususnya pada sesamanya.
- Memberi penekanan pada pengalaman konkrit.
Pokok-pokok ajaran Kierkegaard
Mengkritik ajaran Hege, Kierkegaard memandang Hegel sebagai pemikir besar, tapi satu hal yang dilupakan Hegel adalah eksistensi
menusia individual dan konkret. Manusia tidak dapat
dibicarakan ‘pada umumnya’ atau ‘menurut hakekatnya’, karena manusia pada umumnya tidak ada. Yang ada itu adalah
manusia konkret yang semua
penting, berbeda dan berdiri di hadapan Tuhan. Manusia itu eksistensi. Eksistensi berarti
bagi Kierkegaard: merealisir diri, mengikat diri dengan bebas, dan
mempraktekkan keyakinannya dan mengisi kebebasannya. Ada tiga cara bereksistensi, tiga sikap terhadap hidup, yaitu:
1.
Sikap estetis: Merengguh sebanyak mungkin
kenikmatan, yang dikuasai
oleh perasaan. Cara hidup yang amat
bebas. Manusia harus memilih hidup terus dengan kenikmatan
atau meloncat ke tingkat lebih tinggi lewat pilihan bebas.
2.
Sikap etis: Sikap menerima kaidah moral, suara
hati dan memberi arah pada hidupnya. Ciri khasnya menerima ikatan
perkawinan. Manusia sudah mengakui kelemahannya, tapi belum melihat
cara mengatasinya. Bila ia mengakui butuh pertolongan dari atas, maka
ia loncat ke sikap hidup religius.
3.
Sikap religius: Berhadapan dengan Tuhan,
manusia sendirian. Karena manusia
religius percaya pada Allah, maka Allah memperlihatkan diriNya pada manusia.
Percaya model A ialah Allah hadir dimana-mana. Yang sukar adalah percaya model
B: percaya bahwa Allah menerima wajah manusiawi dalam Yesus agar
bisa berjumpa dengan Dia. Kita
percaya model B, bila kita percaya bahwa kita yang lahir dalam waktu bisa menjadi abadi. Kita bisa menjadi seperti yang kita percayai.
Manusia menjadi seperti yang dipercayainya
Pernyataan Parmenides hingga Hegel:
‘Berpikir sama dengan berada’ ditolak oleh Kierkegaard, karena menurutnya ‘percaya itu sama dengan
menjadi’. Disini dan kini manusia percaya dan menentukan bagaimana dia akan ada
secara abadi.
Manusia memilih eksistensinya entah sebagai penonton yang pasif, atau sebagai pemain/individu yang menentukan sendiri eksistensinya dengan mengisi
kebebasannya.
Subyektivitas dan eksistensi sebagai tugas
Eksistensi manusia bukan sekadar suatu
fakta, tapi lebih dari itu.
Eksistensi manusia adalah tugas, yang harus dijalani dengan kesejatian
sehingga orag tidak tampil dengan semu. Bila
eksistensi suatu tugas, ia harus dihayati sebagai suatu yang etis dan religius.
Eksistensi sebagai tugas
disertai oleh tanggungjawab. Tidak seperti berada dalam massa,
eksistensi sejati memungkinkan individu memilih dan mengambil keputusan sendiri.
Untuk itulah Kierkegaard menganggap
subyektivitas dan eksistensi sejati itu suatu tugas.
B.
EKSISTENSIALISME
MENURUT JEAN PAUL SARTRE
Bagi Sartre, manusia mengada dengan
kesadaran sebagai irinya sendiri.
Keberadaan manusia berbeda dengan keberadaan benda lain yang tidak punya
kesadaran. Untuk manusia eksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain
yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.
Bagi manusia eksistensi mendahului esensi. Asas pertama untuk memahami
manusia harus mendekatinya sebagai subjektivitas. Apapun makna yang diberikan pada
eksistensinya, manusia sendirilah yang bertanggungjawab. Tanggungjawab yg
menjadi beban kita jauh lebih besar dr sekedar tanggungjawab thdp diri kita sendiri.
Beberapa kenyataan
(kefaktaan) yang mengurangi penghanyatan kebebasan:
1) Tempat kita berada: situasi yang memberi
struktur pada kita, tapi juga kita beri struktur.
2) Masa lalu: tidak mungkin meniadakannya karena
masa lampau menjadikan kita sebagaimana kita sekarang ini.
3) Lingkungan sekitar (Umwelt):
4) Kenyataan adanya sesama manusia dengan
eksistensinya sendiri.
5) Maut: tidak bisa ditunggu saat tibanya,
walaupun pasti akan tiba.
Ketubuhan manusia
Dalam eksistensi manusia, kehadiran selalu menjelama
sebagai wujud yang bertubuh. Tubuh mengukuhkan kehadiran manusia. Tubuh sebagai
pusat orientasi tidak bisa dipandang sebagai
alat sematamata,tapi mengukuhkan kehadiran kita sebagai eksistensi.
Komunikasi dan cinta
Komunikasi adalah suatu hal yang apriori tak mungkin
tanpa adanya sengketa, karena setiap kali orang menemui orang lain pada
akhirnya akan terjadi saling objektifikasi, yang seorg seolah-olah membekukan
orang lain. Terjadi saling pembekuan sehingga
masing-masing jadi objek. Cinta merupakan bentuk hubungan keinginan saling memiliki
(objek cinta). Akhirnya cinta bersifat sengketa karrna objektifikasi yang tak
terhindarkan.
Sekainnn materi yang dapat saya sampaikann hari iniiii ... thank youuuu :DSumber diambil dari slide bahan kuliah kesepuluh :)

Nicee post jelas dan lengkapp 90 ya !!
BalasHapus